Senandung Keadilan "cerita ini terinspirasi dari keluarga korban peristiwa semanggi,,,sebuah cerita mengenai perjuangan seorang ibu yg mencari keadilan" Udara panas serta nyanyian-nyanyian anak muda yang memekakkan telinga tidak membuatnya berhenti berjalan. Long march dari makam puteranya menuju lembaga hukum terhormat negara ini tidak menyurutkan niat wanita paruh baya itu berhenti melangkah. Tak peduli dengan panasnya matahari siang yang menyengat kulit. Tak peduli peluh yang membasahi tubuhnya. Tak peduli dengan sesaknya kerumunan orang yang berjalan di sekelilingnya. Tak peduli apapun, hanya untuk mencari suatu makna kata ‘keadilan’. Lautan manusia yang mengenakan almamater yang berwarna-warni terhampar di belakang wanita yang masih terlihat cantik di usia tuanya. Ia menolehkan wajahnya ke belakang dan terlihatlah warna-warna yang menunjukkan masing-masing universitas dan institusi anak-anak muda. Mereka makin bersemangat untuk bernyanyi. Mereka menyanyikan keadilan yang entah ada di mana. Hal itu makin membuat wanita berambut kelabu itu bersemangat melangkah. Merasa ada orang-orang yang mendukungnya. Wanita itu berhenti sebentar, menghela nafas, dan melanjutkan perjalanan kembali. Tiba-tiba di sampingnya ikut berjalan seorang gadis manis yang mengenakan almamater warna oranye dengan kerah berwarna hitam. Gadis yang merendengi langkahnya tersenyum kepadanya. Senyumnya menyejukkan hati di tengah panas matahari dan sesaknya massa. “Ibu capek? Mau saya temani istirahat sebentar?” tanya gadis itu masih dengan senyumannya yang manis. Bagai disiram air dingin di tengah terik, wanita yang dipanggil ibu itu tersenyum dan menggeleng. “Tidak usah, nanti tertinggal,” katanya. “Kalau begitu Ibu minum dulu ya?” Gadis itu menyodorkan segelas air mineral. “Terima kasih,” ujar ibu itu setelah mengambil air tersebut. Ia reguk sedikit, maka legalah keronggokannya yang kering. Kemudian ia habiskan perlahan seakan menikmati rasa yang terkecap dalam air mineral itu. “Terima kasih, Nak.” Wanita yang dipanggil ibu oleh gadis manis berjaket oranye itu meneruskan perjalanannya. Perjalanan yang akan membuatnya menemui seteguk keadilan, begitu pikirnya. Pikirannya pun melayang ke delapan tahun lalu, ketika ia mendengar peristiwa tubuh putra kesayangannya tertembus timah panas. Hatinya remuk. Hancur. Semangat hidupnya seperti ikut terkubur ketika hari pemakaman putranya tiba. Tetapi, apabila mengingat setan berwujud manusia yang melemparkan timah panas ke tubuh putranya, hatinya pun ikut panas dan bergetar. Semangatnya hidup kembali. Semangat untuk menemukan keadilan bagi putranya. Ia terus berjalan bersama lautan massa menuju lembaga hukum terhormat negara ini untuk mencari sosok keadilan. Ia terus berjalan dengan tegar sementara matahari makin menghitamkan kulitnya yang berwarna sawo matang. “Adakah keadilan akan aku temui?” ucapnya. Gadis yang memberinya minuman tersenyum. “Setidaknya kita berusaha,” ujar gadis itu dengan suara lembut menenangkan hati. “Perasaanku sewajarnya perasaan ibu yang ditinggalkan puteranya tanpa pamit. Tetapi perasaanku lebih terluka ketika mendengar bagaimana ia meninggal. Kenapa harus anakku? Pertanyaan itu terus menghantuiku,” ucapnya lagi. Gadis itu mendengarkan dan menatapnya lembut seakan mengerti bagaimana perasaannya. “Kamu tahu, kalau anakku terkena timah panas ketika sedang menolong temannya yang terluka?” Gadis itu mengangguk. “Padahal anakku tidak berada di antara massa demonstran dan tidak melakukan tindakan anarkis. Anakku hanya melakukan tindakan kemanusiaan ketika melihat kawannya terluka. Tetapi justru anakku yang terluka dan meninggal.” “Yang aku inginkan hanya mengetahui siapa yang memberikan timah panas itu ke tubuh anakku. Dan, untuk apa? Aku sudah merelakan kepergian anakku, walau berat. Tapi aku tidak rela pelakunya masih bebas berkeliaran. Di masa depan ia mungkin melakukannya lagi terhadap anak dari ibu-ibu yang lain. Sungguh, aku tidak rela para ibu memiliki perasaan yang sama denganku. Cukup aku saja yang kehilangan anakku. Jangan lagi ada anak orang lain.” “Aku belajar banyak atas kejadian ini. Belajar bersabar dalam memperjuangkan keadilan. Apakah menurutmu negara ini cukup adil dalam memperlakukan warganya? Orang-orang yang memiliki uang banyak walau ia penjahat atau koruptor bisa melenggang bebas. Sedangkan anakku dan teman-temannya yang berjuang untuk kemakmuran negara ini dilempari timah panas. Dipukul, disemprot dengan gas cair yang membuat kulit terasa panas dan gatal. Seakan-akan mereka penjahat. Padahal apa yang mereka lakukan untuk kebaikan bangsa ini. Negara ini.” Gadis yang berada di sebelah kanannya tidak menggeleng maupun mengangguk. Ia terdiam meresapi curahan hati ibu yang gelisah dengan keadaan tersebut. “Seorang ibu dapat melakukan apapun untuk anaknya. Karena itu aku di sini, berjalan bersama kalian. Bersama-sama menuntut keadilan bagi semua, tidak hanya untuk anakku. Agar di masa mendatang tak ada lagi kejadian serupa.” Ibu itu menghela nafas dan mengelap peluh di dahi menggunakan tangannya yang mulai berkeriput. Gadis manis itu memberikan tisu kepadanya dan diterima dengan senyuman tulus. “Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin negara ini yang berbaik hati memberikan keadilan untuk kita? Seperti kamu yang berbaik hati memberiku air di tengah panas matahari? Memberikanku tisu di tengah peluh membasahi tubuh? Bila ada yang berbaik hati, sungguh dimuliakan ia oleh Tuhan.” Gadis itu tersipu, tidak menyangka perbuatan yang wajar dilakukan itu ditanggapi istimewa oleh ibu yang tidak ia kenal. Terus melangkah, mereka berjalan beriringan. Panas matahari makin menyengat kulit. Lembaga hukum terhormat hanya berjarak 10 meter lagi. Seorang anak muda berorasi dengan penuh semangat di depan gerbang lembaga hukum tersebut. Menuntut keadilan dengan menyelesaikan kasus delapan tahun lalu. Ia juga menuntut petinggi lembaga hukum terhormat itu untuk keluar. Terus menerus ia bersama mahasiswa lainnya berteriak-teriak. Dalam waktu setengah jam salah seorang petinggi lembaga hukum keluar. Mahasiswa yang berorasi melakukan pembicaraan dengan petinggi lembaga hukum, terpisahkan pagar besi yang kokoh dan tinggi. Ibu berambut kelabu tadi melihat dari kerumunan massa. Beberapa keluarga korban menghampiri mahasiswa yang terlibat pembicaraan. Sayup-sayup terdengar pembicaraan itu ke telinga si Ibu. Kasus delapan tahun lalu bukanlah pelanggaran HAM berat dan pemerintah perlu membentuk suatu komisi kebenaran dan rekonsiliasi. Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran si Ibu. Kebenaran apalagi yang harus diselidiki? Bukankah suatu kebenaran yang sangat nyata tubuh puteranya tertembus timah panas dan timah panas itu berasal dari senjata militer pemerintah? Bukankah menyabut nyawa seseorang itu melanggar hak asasi manusia? Dengan kekuatan yang tersisa dalam tubuh kecilnya, si Ibu menyeruak di antara kerumunan, maju ke depan pagar, mendorong mahasiswa tadi dan menatap tajam petinggi lembaga hukum. Ia mengambil sesuatu dalam tasnya yang besar. Telur dan tomat busuk Ia lempar ke tubuh petinggi lembaga hukum yang terhormat itu. Dan Ia juga melemparnya ke halaman gedung lembaga hukum. Puas dengan apa yang ia lakukan, ia masuk kembali ke dalam kerumunan massa. Ke arah gadis manis yang memberinya minum dan tisu. “Kesabaran pun ada batasnya, Nak. Tidak selamanya aku dapat bersabar. Beruntung dia tidak aku lempar dengan timah panas. Telur dan tomat busuk rasanya cukup setimpal dengan lembaga hukum yang busuk ,” katanya. Gadis itu tersenyum tertahan melihat semua adegan tadi. Jakarta, 20 Desember 2006