ANDARA Jakarta, 12 Maret 2007 Pukul 13.09 WIB SMA SANTA MARIA Dentang bel membuyarkan Andara dari kantuknya. Suntuk yang memaksa kedua kelopak matanya menguncup selama mengikuti jam pelajaran memang di luar dari kebiasaannya. Petuah bijak yang ditawarkan oleh Suster Anamaria untuk memilih jalan terbaik menuju kedamaian surgawi hanya bagai litani pengantar tidur. Sesuatu memang telah terjadi pada keluarganya. Mengundang prahara yang berbuntut lara. Dan itulah yang menjadi biang gundah di hatinya. Bergegas dihimpunnya buku-bukunya di laci ke dalam tas. Tas manis berhias gambar Mickey itu merupakan kado ulang tahun dari Papa kala dia tepat berusia tujuh belas setahun lalu. Masih saja setia menyampiri pundaknya, menyertai langkahnya ke sekolah sehari-hari. Setiap terkenang itu, hatinya seolah berdarah. Mengucurkan luka yang membilur jingga. Sekarang Papa dan Mama sudah tidak bersatu lagi. Keharmonisan yang senantiasa mengakrabi hari-harinya dulu sudah raib entah ke mana. Andara mengusap ujung matanya. Bening airmata yang sudah terlampau sering dikucurkannya agaknya tak mampu memperbaiki keadaan. Retaknya hubungan antara Papa dan Mama memang harus dibayar mahal dengan mengorbankan dua hati. Dan keputusan itu bagai ultimatum yang tak bisa ditawar-tawar. Andara ikut Mama, Andika ikut Papa! Titik nadir yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya menghadirkan gulana yang berkepanjangan. Melarutkannya dalam penyesalan. Hari-harinya yang dulu penuh warna kini disurami selubung durja. Tak ada lagi keceriaan yang menyertai lagaknya sebagai gadis belasan berparas manis. Rahangnya mengeras. Segumpal dendam yang mengental merah senantiasa menggejolak di hatinya. Matanya terpicing sertamerta. Angelina Jose Darmawan. Wanita muda dengan sejumlah atribut sempurna sekretaris Papa itu tak ubahnya racun. Biang pelantak keutuhan keluarganya! Nelangsa yang dihadirkan wanita 'iblis' itu nyaris membuat Mama bertindak bodoh, bunuh diri. Tangisan histeris Andika dan dia kala itu membuat Mama mengurungkan niatnya menenggak racun serangga. Terlalu murah rasanya harga sebuah kematian untuk menutupi sepotong rasa kecewa. Kalkulasi yang benar-benar tidak dapat dikatakan bijak. Sebulan sudah peristiwa itu berlalu. Belum pupus benar segala sepat yang merecoki hati dan pikiran. Papa melenggang pergi bersama wanita lain, membawa Andika yang belum tahu apa-apa. Andara menghela napas panjang, membiarkan udara masuk menyegarkan pori paru-parunya. Dicobanya bersikap tegar, mengambil hikmah dari kenyataan yang mungkin sudah digariskan oleh Sang Khalik. Barangkali inilah jalan yang harus ditempuhnya bersama Mama. Di mana ketabahan dan ketegaran menjadi kunci kebahagiaan. Sedini mungkin berusaha dimafhuminya itu. Seperti kemarin malam. Didapatinya Mama diam-diam menangis di kamar, mendekap bingkai gambar Andika. (Bocah jalan tiga itu memang menggemaskan. Sepasang matanya yang bundar jenaka senantiasa menyejukkan hati. Mengundang rasa sayang yang tak terkira. Sayang, prahara rumah tangga orangtuanya membawanya pada suatu kondisi yang tidak menyenangkan. Andara yakin 'Mama' baru yang akan disuguhkan Papa kepadanya menggantikan Mama tidak akan lebih baik ketimbang dulu. Dia bergidik membayangkan kisah-kisah seputar ibu tiri yang kejam. Andika yang manis bakal terpasung dalam tirai tirani.) Suatu ketika Andara merasa memiliki Mama yang demikian tegar, namun suatu ketika pula didapatinya Mama yang rapuh, yang tengah terisak mengenang Andika dan Papa yang tergoda oleh pesona wanita lain. "Andara Evaline Santoso...." Andara kemekmek. Buku terakhir yang tengah digenggamnya terjatuh ke lantai. Menimbulkan debum kecil yang mengagetkannya sendiri. Andara Evaline Santoso? Andara menggigit bibir bawahnya. Masih pantaskah dia menyandang nama depan Papa di belakang namanya? Masih pantaskah dia mengenang Papa? Santoso, lelaki yang sekian belas tahun sangat dikagumi serta disayanginya itu kini bukan lagi menjadi miliknya meski darah yang mengaliri nadinya berasal darinya. "Suster...." " Ada masalah, Nak?" Andara menggeleng. "Tidak, Suster...." Seulas senyum bijak mengembang tulus di hadapannya. Andara menelan ludahnya dengan susah payah. Dia telah berbohong. Duh, semoga Tuhan mau memaafkannya! "Suster turut prihatin atas...." Sesaat mata Andara membola sebelum menundukkan kepalanya. Pipinya sudah membasah. "Suster tahu?" tanyanya lirih. Anggukan kecil Suster Anamaria menjawabi pertanyaannya. Membungkam mulutnya. Melilit lidahnya dalam diam yang membeku. Bahasa nalarnya telah mengartikan gerak tubuh wanita di hadapannya tadi. "Suster tidak ingin melihat seorang Andara Evaline Santoso terus-terusan bermuram-durja, menjeblokkan semua mata pelajarannya di sekolah. Terlebih-lebih Mama Andara...." "Mama...." "Ia menyampaikan pesan pada Suster, Andara tidak boleh berkubang dalam duka." "Tapi...." "Su-Suster...." "Ada kalanya kita memang harus berpisah dengan orang yang kita cintai," ujarnya dengan suara lunak. "Tapi wanita iblis itu, Suster...!" "Jangan menyalahkan siapa-siapa...." "Juga untuk biang perusak rumah tangga orang?!" "Mungkin dia tidak sejahat sangka Andara." Andara tercekat. Seketika tubuhnya menegak. Rasa-rasanya dia mendengar kalimat tadi bukan dari seorang yang dapat dianggap bijak. "Su-Suster...?!" "Nak, Suster mengerti betapa beratnya menerima kenyataan bahwa orang yang paling dicintai berpaling, mencintai orang lain. Tapi, itulah kenyataan yang mau tidak mau harus diterima. Sebuah kondisi telah membentuk keadaan demikian. Ada saatnya sesorang harus memilih jalan yang dianggap tidak menyenangkan. Seperti makan buah simalakama." "Tapi...." "Andara. Suster mengerti apa yang Andara rasakan. Tidak menyenangkan memang. Ini mungkin jalan yang mesti Andara lalui. Ini seperti suratan." Gadis itu hanya sesenggukan. Titik airmatanya menderas. Ia berpaling. Seolah menatap hampa pada tembok. Wanita separo baya itu tersenyum. Dibiarkannya gadis itu tetap mematung tanpa sikap mengadili. Dialihkannya pikirannya ke sebuah rumah megah di pusat kota . Segalanya memang seperti skenario. Ada penggalan kisah yang pahit, seperti panggung sandiwara yang dilakoni anak-anak manusia. Ia menggeleng. Tak sadar. Betapa kerdilnya manusia di hadapan sang keinginan. Ketidakpuasan melatarbelakangi prahara yang terjadi. Ini tragedi kemanusiaan yang terus berkembang sepanjang segala zaman. Ia menghela napas, sejenak. Dia iba. Gadis kecil itu belum tahu apa-apa. Di luar, dari jendela kelasnya, seseorang menatapnya diam-diam. Caroline masih menantinya. *** "Ini untukmu, Sayang." "Untuk apa?!" "Pa-Papa sayang kamu, Dara." "Papa tidak berhak menyayangi Dara lagi." "Dara putri Papa...." "Sekarang tidak lagi!" "Kenapa?" "Karena bukan wanita bernama Angelina Jose Darmawan itu yang melahirkan Dara." Lelaki itu terperangah. Seperti ditusuk beribu-ribu jarum, kepalanya pening tiba-tiba. "Yang melahirkan Andara adalah wanita yang bernama Widyawati Kusuma. Bukan dia, wanita pilihan Papa itu!" "Ta-Tapi...." Gadis itu masih menangis. Dihempaskannya kotak batang permen coklat pemberian lelaki itu. Dia sama sekali tidak ingin menerimanya. Apalagi untuk merelakan lelaki itu mengantarkannya pulang. "Se-Secepat itukah Papa berubah?! Papa sama sekali tidak menghargai jasa-jasa Mama." "Da-Dara...." "Mama...." Lelaki itu terdiam. Berusaha dengan susah payah meneguk ludahnya. Sesaat dia menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum meninggalkan gerbang sekolah dengan langkah lunglai. Gadis itu hanya mematung. Menunggu sampai punggung lelaki itu menirus dari matanya. "Dara...." Andara menoleh. Ada suara dari belakang yang menggebah lamunannya. Dilihatnya Caroline menghampirinya dengan sikap ragu. "Kamu ti-tidak ikut pulang sama Papa kamu?" "Dia bukan Papa saya!" Gadis berambut panjang itu menundukkan kepalanya. Sinar di matanya meredup. Namun dia bersikap wajar lagi sedetiknya. Melebarkan bibirnya membentuk senyum. "Tapi, biar bagaimanapun, dia tetap ayah kamu. Papa kamu!" "Dulu. Sekarang, tidak lagi!" "Siapa bilang tidak...." "Ka-Kamu...." "Maaf, Dara. Tidak sepantasnya saya mencampuri urusan keluarga kamu. Tapi...." "Tapi apa?" "Sampai kapan kamu akan membenci Papamu?" "Kamu tahu tentang keluarga saya?" "Tentu saja saya tahu. Setiap hari lelaki itu datang menjemputmu. Kalau bukan ayahmu, siapa lagi? Jangan pikir saya pernah menyangka kalau lelaki itu adalah pacarmu. Lagian, kamu tidak mungkin berpacaran dengan orang yang sudah toku , yang lebih pantas menjadi bokap kamu, kan?" Andara mencoba tersenyum mendengar gurauan Caroline, siswa baru di kelasnya, pindahan dari sebuah SMA di Bandung. "Tentu saja tidak." Andara akhirnya tertawa. "Tapi pengecualian apabila dia adalah Richard Gere." Caroline terbahak. Dua menit kemudian mereka meninggalkan gerbang sekolah. Tampak seorang satpam menutup gerbang besar dari besi itu dengan susah payah. Selalu saja begitu. Pintu tua itu berderit sebelum akhirnya tertutup rapat. "Duduk di halte sekolah enak juga, ya?" Caroline memecah kebisuan. Dia tahu Andara masih memikirkan kejadian miris tadi. Dilihatnya gadis anak baru sekolahnya itu mengangguk. "Berangin-anginan sembari menunggu bis Patas AC lewat." "Kamu kok terlambat pulang sih, Ine?" "Sengaja. Nunggu kamu." "Lho...." "Duh, kamu tidak ngerti juga ya, Non?" Andara menggeleng lugu. "Kalau saya pulang cepat, siapa yang menghibur kamu kalau kamu lagi menangis?" "Hei, kamu...." "Setiap hari kerjamu cuma 'huhuhu' saja. Kalau bukan sama Suster Anamaria, pasti setelah bertengkar sama Papa kamu seusai bubaran sekolah. Iya, kan ?" "Jadi...." "Jadi setiap hari saya siap berkorban jiwa dan raga untuk menampung unek-unekmu." Caroline mendongakkan kepalanya dengan gaya angkuh. "Eh, bahu saya juga lumayan empuk untuk kamu tumpahkan air bah dari matamu, lho." "Kok kamu baik sama saya sih, Ine?" Andara bertanya dengan mimik haru. "Kalau bukan teman, siapa lagi? Memangnya sama Pak Ridwan yang satpam itu? Huh, jangankan untuk menampung duka laramu itu; untuk urusan tutup menutup gerbang sekolah saja dia sudah kelimpungan." Andara terbahak. Lara yang melingkupinya sejenak tergusur suka. Diliriknya Caroline yang terpingkal. Sungguh. Dia merasa sangat beruntung mempunyai sahabat seperti gadis berambut panjang ini. Ini sebuah anugerah dari Tuhan untuknya. "Dara...." "Apa?" "Hm...." Caroline ragu. Diedarkannnya matanya ke sekeliling. Jalan utama di depan sekolah tampak sepi. Lalu-lintas tidak terlampau ramai. Hanya tampak pedagang gerobak bakso tengah berbenah, hendak pulang beristirahat setelah seharian penat berdagang. "Kamu janji jangan marah, tapi." "Iya. Ada rahasia apa, sih?" "Bukan rahasia." Caroline membolakan matanya dengan gaya ceria. "Oke. Kita mulai. Pertama, apakah...." "Eh, Ine. Kamu mau bertanya atau melemparkan kuis, sih?" "Hehehe. Tentu saja pertanyaan, Non." "Nah, kalau begitu cepatlah sebelum bisnya nongol. Soalnya, kita beda jurusan. Dan kapan saja saya bisa berubah pikiran untuk mengenakan tarif pada setiap pertanyaanmu." Andara bercanda, terbahak kemudian. "Seandainya ada orang yang sangat kamu benci ternyata dia sangat baik pada kamu, apakah kamu akan tetap membencinya?" "Hei, maksudmu...." Andara mengernyitkan dahinya. "Maksudku, apakah kamu dapat menerima kebaikan orang yang kamu tidak sukai." "Kalau dia baik, kenapa harus dibenci?" Andara masih belum mengerti arah pembicaraan Caroline. "Eh, memangnya saya kelihatan banyak musuh ya, Ine?" "Bukan begitu maksud saya." "Kamu ini aneh...." "Misalnya, Papa kamu...." "Pa-Papa...." "Dia kan baik, Dara?" "Ja-jangan sebut Papa lagi!" Andara mulai terisak. "Sori. Saya tidak bermaksud...." "Sudahlah, Ine. Kamu boleh bertanya apa saja, asal jangan soal Papa saya." "Ta-tapi...." Andara mengalah. Meski dia sakit hati, tapi diceritakannya juga akhirnya perihal keluarganya. "Sebetulnya Papa baik. Sangat baik malah. Hanya, tidak disangka setelah mengenal salah seorang karyawati barunya, Papa dapat melupakan Mama...." "Maksudmu mereka...." "Mereka menikah. Wanita itu adalah sekretaris baru Papa." "Ja-jadi...." "Saya menyesali keputusan Papa untuk tetap menikahi sekretarisnya itu, meskipun jauh-jauh hari Mama sudah mengancam talak, sampai mencoba bunuh diri segala macam...." Andara tercekat dengan suara memarau. Airmatanya menderas. "Ta-Tapi, akhirnya Papa tetap bersikeras dengan keputusannya. Andika dibawa serta, dan tinggal bersama wanita iblis itu!" Caroline tersengat. Matanya mulai membasah. "Ta-Tapi...." "Kamu tidak akan pernah dapat mengerti kebencian saya terhadap wanita genit perebut suami orang itu, Ine. Kalau kamu sebagai posisi saya, tentu kamu akan mengerti bagaimana rasanya sakit hati itu." "Sa-Saya...." Caroline terbata-bata. Airmatanya mulai bergulir. "Ya, kamu akan mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang benar-benar kita cintai. Rasanya, kebahagiaan kita dirampok." Caroline membisu. Ditekuknya kepalanya ke dada. Airmatanya masih bergulir. "Demi Tuhan, Ine. Demi, Tuhan. Saya sama sekali tidak habis pikir, kok masih ada orang yang tega seperti itu!" jerit Andara dengan suara serak. "Ta-Tapi, be-belum tentu mereka sejahat sangkamu, Dara!" "Mungkin. Mungkin mereka seperti perkataanmu barusan. Tidak sejahat prasangka saya. Mungkin mereka sebaik bidadari. Tapi, mereka sudah merampas kebahagiaan dan keharmonisan keluarga saya. Sesuci apapun mereka, saya tetap tidak dapat menerima kenyataan itu!" "Ka-kamu...!" "Kalau bukan karena wanita itu...." "Kamu ti-tidak berhak menilai wanita itu!" "Kenapa?!" Andara membeliak, menatap lurus ke wajah sembab Caroline. "Kenapa saya tidak berhak menilai wanita biang perusak rumah tangga orang?!" "Mak-maksud sa-saya...." Andara menghela napas panjang. Dibiarkannya airmatanya berlinang deras. Dia sudah terlampau sakit hati. "Lalu, Andika...." "Mung-mungkin... dia baik-baik saja...." "Dia pasti disiksa!" "Ti-tidak...." "Ibu tiri...." "Ti-tidak semua ibu tiri itu jahat...." "Tapi, wanita itu pasti ibu tiri yang jahat!" sergah Andara. "Kalau tidak, mana mungkin dia mau merebut suami orang!" Caroline menggigil, mencoba menyentuh bahu Andara, berusaha memeluk sahabatnya itu. Namun sepasang tangannya seolah hanya menggapai angin. Suaranya pun berhenti di tenggorokan. Mendadak menjadi bisu. "Ka-kasihan Dika. Dia pasti kesepian. Dia...." Kedua gadis itu menangis sesenggukan. Andara menutup wajahnya dengan kedua belah tapak tanganya, sementara Caroline berusaha menyembunyikan tangisnya. Digerainya rambutnya yang panjang, menutupi sebagian wajahnya yang kuyu. "Mama sangat menderita, Ine!" "Sa-saya tahu." "Ka-kasihan Mama...." Caroline menggigit bibirnya sampai berdarah. Sedari tadi ingin dipeluknya pundak Andara. Membagi dukanya bersama. Sebab mereka sebenarnya adalah saudara. Dia adalah putri tunggal dari wanita yang paling dibenci oleh Andara, Angelina Jose Darmawan. *** Epilog "Maafkan saya, Mas. Sayalah penyebab kehancuran keluarga, Mas." "Kamu jangan berkata begitu. Cuma pernikahan kita inilah yang dapat saya berikan di sisa akhir hidupmu. Kamu jangan pikir macam-macam lagi." "Tapi...." "Sudahlah. Mungkin kita sudah ditakdirkan untuk kembali bersatu setelah nasib seperti mempermainkan kita, memisahkan kita sekian belas tahun. Selama ini kamu sudah sangat menderita." "Widya...." "Seperti juga Darmawan, mereka adalah anugerah kita masing-masing, yang terpampas dari sisi kita. Sudahlah, Lin. Jangan sesali kecelakaan lalu-lintas di Pasteur itu. Darmawan sudah tenang di alam sana. Dan Widya juga sudah ikhlas." Wanita itu menitikkan airmata haru. Vonis leukemia menjadi tidak berarti apa-apa dibandingkan ketulusan cinta yang dipersembahkan baginya di akhir sisa hidupnya. Di luar, dari jendela bangsal rumah sakit, seorang gadis menatap mereka diam-diam dengan airmata menitik.