NING By : Viona Rosalina Handoyo & Effendy Wongso Seraut wajah manis itu melintas dan tergambar di kaca jendela bis. Ning. Dia mengajari saya banyak hal. Tentang kehidupan ini. Selama ini memang banyak yang luput dari perhatian saya. "Hidup ini penuh perjuangan...." Saya mengangguk tak sadar. Bis oleng ke samping. Kepala saya terantuk. Wajah Ning berganti dengan sebuah bajaj yang hampir keserempet bis yang saya tumpangi ini. Sesudah itu, ada makian yang terdengar. Segala sumpah-serapah memenuhi ruang pendengaran saya. Saya berusaha menghindari dengan mengenang gurat wajah belia Ning. Tapi ternyata pertengkaran antara supir bis dan bajaj lebih menyita perhatian. Saya tidak suka mendengarnya. Pertengkaran bukan alternatif yang baik untuk menyelesaikan masalah. Itu kata Ning. "Belajar untuk mengalah, itu yang berat. Tidak banyak orang yang sanggup melakukan itu. Kita biasanya menuruti kehendak hati masing-masing. Tapi, tahukah kamu, Joe? Kehendak hati kita itu merupakan bentuk-bentuk ego yang merugikan. Sangat merugikan." Kembali saya mengangguk tanpa sadar. Namun sedetik sesudahnya saya tergugah lagi oleh pertengkaran yang kian memburuk. Supir bis sudah turun. Menghampiri supir bajaj yang juga sudah turun. Selang berikutnya mereka sudah tuding-tudingan dengan makian-makian yang semakin kasar. Saya memejamkan mata. Wajah Ning begitu tenang di benak saya. Ada senyum yang senantiasa menghias bibirnya. Senyum yang, bagi saya merupakan sesuatu yang menyejukkan hati. Saya tidak pernah mendapati senyum yang teduh begitu. Dan saya sangat bersyukur karena suatu masa dalam hidup saya dapat menyaksikan senyum Ning yang bersahaja. Orang-orang yang memenuhi bis ini tadi sudah turun satu per satu. Pindah ke bis lain. Sebagian lagi masih terpaku menyaksikan pertengkaran yang belum kunjung usai. Saya menghela napas. Masih duduk dan terdiam. Gadis berseragam putih abu-abu yang duduk di samping saya sudah tidak ada lagi. Kasihan dia. Tadi, kondektur bis memelototinya dengan rupa beringas. Agaknya dia tidak senang karena hanya membayar separuh harga. Saya mendadak teringat ucapan Ning. Katanya, "Kebanyakan dari kita hidup berlandaskan pamrih." Mungkin. Mungkin Ning benar. Saya tidak begitu paham benar tentang hal-hal demikian. Tapi paling tidak saya sudah melihat kenyataan yang cukup jelas. Batas jarak antara si Kaya dan si Miskin begitu lebar. Ning bilang, 'Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang.' Rupanya Ning menyimpan banyak perbendaharaan pepatah. Pepatah yang kiranya tepat digunakan untuk mengkritik kehidupan ini yang menurutnya sudah amburadul. Amburadul? Waktu itu saya tertawa. Ning mendadak menjadi filosofis banget. Padahal usianya baru menginjak tujuhbelas. Jauh lebih muda dari saya. Entah dia belajar dari mana mengenai falsafah hidup. Gadis itu menjadi asing di mata saya. Pandangan-pandangannya, juga uraian-uraiannya tentang manusia dan Sang Pencipta kerap semakin mengecilkan arti keberadaan saya. Saya semakin kerdil rasanya. Kalimat-kalimatnya mengena telak. Seperti menohok batin saya. Jujur, saya memang sering melupakan Tuhan. Tidak menjauhi larangannya, kadang. Dan itu membuat mata nurani saya tertutup. Saya mempergunakan kelebihan yang ada pada diri saya untuk kepentingan-kepentingan saya pribadi. Saya ini punya wajah yang 'ehem'. Saya pun berubah menjadi kumbang yang berpetualang dari bunga yang satu ke bunga yang lainnya. Begitu seterusnya sampai-sampai saya sendiri merasa jenuh. Lantas, saya memiliki kemudahan-kemudahan fasilitas, yang dengan mudah saya peroleh dari Papi-Mami. Maklum, saya terlahir dari keluarga yang kaya-raya. Mungkin tujuh turunan kekayaan kami tidak bakal kepakai habis. Uang yang berlimpah-limpah tersebut, yang seharusnya dipergunakan untuk hal-hal yang berguna, di tangan saya malah kepakai untuk hal-hal yang tidak berguna sama sekali. Saya habiskan untuk hura-hura....