PENANTIAN YANG TERTUNDA "(Pesan penulis: Jangan pernah menilai segala sesuatunya sampai ENDING) " “Apaan, nih?” “Undangan…” ”Iya, aku tau! Tapi… dalam rangka apa?” ”Ultah, dong! Tujuh belas tahun, gitu...” “So?” “Gemesnya diri ini ngeliat betapa o’on wal ngeselinnya si Cheryl ini…” “Aouw! Sakit, Titaaa!” Cewek yang bernama Cheryl itu berusaha menyingkirkan tangan Titasepupu favoritnyadari pipi putih mulusnya itu. “Kamu mesti dateng. Harus! Kudu. Wajib. Karena kamu itusatusepupu aku. Kedua, teman curhatku. Dan ketiga, soulmate aku,” setelah berkata begitu, Tita mengacungkan tinjunya. “Jangan ge-er! Jangan ngakak, jangan senyam-senyum! Aku terpaksa ngomong gitu supaya kamu dateng, Jelek!” Cewek yang bernama Cheryl itu terus saja senyam-senyum gak jelas. Dia tau banget, dibalik kecerewetannya Tita pada dirinya, tuh anak ngerasa sayaaang banget sama Cheryl. Rasa sayang yang sudah terbentuk sejak TKpertama kalinya mereka bertemu dan bertetanggasampe sekarang. Cheryl... Tita. Hmm... Eh... Wuoi! Ada yang tau gak sih, kalo Cheryl itu aku? Ya ampun... Aku kebanyakan baca novel, nih! Masa, apa yang baru aja kualami lima menit yang lalu tanpa sadar kuceritakan lagi di dalam hati dari sudut pandang orang ketiga? Wah… Bener kata Mama, nih! Kebanyakan nonton sinetron plus baca novel bikin daya khayal kita melambung tinggi melebihi kapasitas. Kayak aku sekarang ini. My God! Kacau, deh… “Dress code-nya?” Tanyaku sambil meneruput minuman yang tersedia di atas meja. Hmm... enak! Bi Biyah emang te-o-pe banget, deh, kalo masalah bikin jus.Makanya aku ketagihan nginap di rumah Tita, hehe... ”Seventeenth in Wonder Land.” ”What?!” Aku terpekik kaget, jelas! Tita emang keranjingan cerita-cerita basi like Cinderella, Sleeping Beauty, Aurora, dan semua yang berbau begituan. Aku juga sih, tapi... OH NO!! ”Kenapa?” tanya cewek berambut hitam bergkamumbang itu polos. ”Tau gak, sih?!” Aku sekarang mondar-mandir gak keruan di ruang tamunya Tita. Aku bener-bener gak terima dengan berbagai alasan. ”Aku belum gajian bulan ini. Mamaku gak bakalan nambahin duit ke tabungan kalo belum tanggal satu. Dan itu masih dua minggu lagi! Oh God... Gara-gara kaos lucu, lima novel bagus, nonton tiga film baru yang bagus banget, sama sepatu keluaran terbaru bikin aku bokek seketika! Ancuuur...” Tita merengut mendengar repetanku yang jelas-jelas menyatakan betapa-borosnya-Cheryl-itu. ”Kamu lupa, Cher?” Aduh... Nadanya Tita gak enak banget, dingin! ”Ultahku kan tanggal tiga, Neng! Masih sempetlah buat nyari-nyari. Sengaja aku kasih tau sekarang! Tau, gak? Biar aku dapet hadiah yang banyak plus bagus! Hehe...” Ngeliat dia yang cengengesan gitu, rasanya aku ingin menjerit frustasi, deh! Satu lagi sifatgak tau bagus apa jelekTita, selalu mengharapkan hadiah yang bagus-bagus. Cewek yang lebih tinggi dan lebih putih dariku ini selalu begitu. ”Aduh, Ta... Daripada aku amti kecekik di sini, mendingan aku pulang, deh! Pusing aku, sumpah! Bye...” Langsung saja kuayunkan kaki, keluar dari rumah itu. Sudahlah! * Oh no... BIG NO NO!! Tau gak, sih... AKU JATUH CINTA! Ya ampun… Di tengah kepusinganku soal ultah Tita dua minggu mendatang, perasaan itu menghampiriku begitu saja. Dia terlihat sangat… sempurna. Seksi. Suatu ciptaan terindah yang pernah kutemui seumur hidupku. Tita pasti iri melihatku datang dengannya saat pesta nanti. Ya, aku ingin sekali datang dengannya. Bisakah...? Wow... aku ingin sekali mendekatinya sekarang. Tapi... tunggu dulu! Sesuatu yang berada di dekatnya membuat mataku seakan mkamuncat keluar seketika itu juga. Hatiku seakan disayat-sayat. Tidaaak! Belum apa-apa, aku sudah patah hati. Nasib... Tapi tak apa. Aku tetap optimis akan datang dengannya. Akan kulakukan aaapa saja hanya untuk bisa mendekatinya. Tunggu aku, Cinta. Tunggu aku... * Setiap hari aku menunggu bus di halte ini. Itu artinya, aku bisa melihatmu setiap harihanya dari tempatku berdiri. Setiap kulihat dirimu, kau selalu ada di situ. Di seberang halte ini persis. Membuatku ingin menghampirimu, tapi hati ini tak sanggup. Jadilah aku hanya menatapmu dari sini dengan tatapan memuja. My love... don’t you know? Sudah seminggu sejak pertama kali melihatmu, aku masih saja begini: tak berani mendekatimu. Tapi aku merasa was-was, Sayang. Hatiku khawatir sekali. Aku takut, begitu sekolah usai dan aku menunggu di halte ini lagi, aku selalu takut kau menghilang. Tak ada di situ. Kau telah menjadi targetku sekarang! Kehilangan jejakmu pastiakan membuatku putus asa. Makanya, aku selalu meminta pada Tuhan agar masih selalu diberi kesempatan untuk melihat dan mendekatimu. Tunggu sebentar lagi, Sayang. Dan aku akan datang kepadamu. Ya ampun… Oh my God… Astaghfirullah… Aku baru ingat! Tujuh hari dari sekarang… TITA ULANG TAHUN!! Celaka, aku belum beli hadiah! Mencarinyasaja belum! Mama... tolong gaji aku sekarang... * Oh... Aku tak sabar menunggu hari esok tiba: tanggal satu! Aku bakal gajian. Aku bisa membeli hadiah untuk Tita. Dan... aku juga bisa membeli segala macam hal agar terlihat cantik di pesta nanti. Supaya serasi dengan dirimu. Mana mungkin aku datang bersamamu dalam keadaan biasa-biasa aja! Kamunya aja sempurna banget. Lekukan-lekukan di dirimu... Ampun, deh. Seksi banget. Pernah ya, aku meminta Tita untuk menilaimu. Tebak, apa katanya? ”Keren banget, Cher! Sumpah, keren abis! Sempurna. Seksi. Oke banget. Wuih... Seleramu oke punya, deh!“ Tuh, Babe! Tita aja muji-muji kamu. Berarti, kamu itu teramat-amat-sangat-sempurna-sekali, sekali-sempurna-tetep-sempurna-banget, deh! Adudududuh... Bahagianya hatiku... * Akhirnya, hari yang kutunggu-tunggu tiba. Duitku bertambah! Hahaha... Aku bisa langsung mencari hadiah untuk Tita. Maaf ya, Sayang... Aku gak bisa liat kamu. Tapi aku janji. Sebentar lagi, aku akan menghampirimu. Dan kita, kita akan bersatu. Kau... dan aku. Selamanya. Setelah muter-muter sendirian selama dua jam di sebuah mall yang berada dekat dengan sekolah, aku langsung mendatangi tempat di mana kau selalu terlihat. Dag... Dig... Dug... Aku gak percaya! Sayangku, aku sekarang sedang berdiri di hadapanmu, ternganga mengagumi kesempurnaanmu dari dekat. Kusentuh dirimu dengan ekstra hati-hati. Ya ampun... lembut sekali. Kuperhatikan setiap lekukannya. Ah... sempurna. Sangat seksi. ”Mau ambil yang itu, mbak?” Aduh... Pelayan butik itu mengusik suasayang kubangun saat menilaimu. Tapi, kuberikan saja senyum termanis yang kumiliki padanya, sebagai sopan santun. Mbak itu kembali berbicara, kali ini tentang kamu. ”Dibuat dari kain sutra asli, Mbak. Dirancang oleh seorang desainer terkenal. Lekukan yang tercipta mulai dari pinggul sampai ke bawah memang sangat indah. Apalagi warna kainnya begitu lembut. Pasti cocok sekali dengan kulit putih Anda. Jika Anda yang memakainya, Mbak, wah... Pasti Anda akan terlihat seperti seorang Tuan Putri. Hanya ada lima puluh di butik kami. Dan kebetulan, tinggal gaun yang dipakai oleh manekin ini saja yang ada di butik kami, barangkali juga di seluruh butik ternama di kota ini.” Ya ampun... kata-katanya memang benar! Kau... adalah gaun paling sempurna yang pernah kulihat seumur hidupku. Berapapun akan kukeluarkan asal bisa memilikimu. Kau tau, gaun cantik? Aku telah mempersiapkan segalanya. Mulai dari sepatuhigh heels, tentunyaberwarna putih, tiara manis yang warna silver nya terlihat menggoda, dan aksesori lain seperti gelang, cincin, anting-anting, kalung, tas tangan, dan juga sarung tangan putih yang pasti serasi denganmu, membuatku terlihat sangat seksi, putih dan paling sempurna. Hei, aku tak sabar melihat reaksi Tita saat melihatku datang denganmu! Pasti ia iri berat. Hahaha...