Hari ini adalah hari yang menggairahkan sekaligus menakutkan bagiku. Hari ini aku akan mengirimkan surat cinta pada orang yang telah lama kusukai.
Memang caraku ini bisa disebut ketinggalan zaman ataupun kampungan, tapi begitulah aku. Seorang pria pengecut dan lemah yang tak mampu mengungkapkan perasaannya secara langsung. Maka karena itulah aku akan mengirimkan sebuah amplop warna biru muda dengan isi secarik kertas yang juga berwarna biru yang berisi ungkapan perasaanku.
Pada amplop itu kutulis kata “From Me For You, Dianita.” Tak kutulis namaku yang sebenarnya agar ia tak risih padaku.
Memang wanita mana yang mau padaku, apalagi wanita seperti Dianita. Seorang pria canggung dengan penglihatan minus.
Maka karena itulah aku takkan bermimpi untuk memilikinya, seperti yang kutulis dalam surat ini.
Pagi ini aku berangkat sangat pagi agar bisa datang paling awal dikelasku dan menyimpan surat ini dimejanya tanpa ketahuan. Tapi betapa kecewanya aku. Dia telah datang, cantik dan selalu murah senyum seperti biasa.
Kuurungkan niatku dan duduk dikursi lalu diam hingga kedua teman baikku datang. Mereka adalah sahabat yang kupunya dikelas tiga ini. Kuhabiskan hari-hariku dengan mereka.
Mereka, sepertiku juga memiliki orang yang disuka masing-masing. Dan sepertiku juga, tak berani mengungkapkan perasaan mereka dengan jujur. Meskipun begitu mereka tidaklah sepengecut diriku ini.
Keesokan harinya, kembali kukuatkan keberanianku ini. Sambil menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali aku melaju kesekolah. Dengan perasaan berdebar, kulihat ruang kelas. Berhasil, kali ini aku datang tepat waktu. Tak ada orang dikelas.
Kukeluarkan amplop warna biru itu, dan dengan jantung berdebar-debar, surat itu kutaruh dilaci mejanya.
Belum sempat aku berdiri tegap kembali, terdengar suara pintu berdecit. Karena kaget, kutarik kembali surat itu dan menyembunyikannya dibelakang punggung.
Kulihat dia berdiri keheranan sambil menatapku. Kurasakan wajahku memerah, dan keringat dingin disekitar leherku.
“Apa yang elu lakuin?” tanyanya padaku.
“Nggak ada, gua cuma kaget karena kedatengan elu,” jawabku. Suasana makin terasa tak enak bagiku.
“Terus apa yang berada dibalik punggung elu?” katanya sambil berusaha melihat punggungku.
Dengan tergesa-gesa kumasukan kembali surat kedalam saku belakangku, dan kurogoh selembar uang untuk menggantikannya.
“Uang gua tadi jatuh, tadi gua ambil dan masukin kesaku belakang,” kataku sambil menunjukan uang yang barusan kuambil dari saku.
“Oh, cuma itu. Gua pikir apaan. Habisnya elu sih pake kaget kayak gitu,” katanya sambil duduk.
Gagal sudah rencanaku hari ini. Kembali aku duduk dikursi dan terdiam. Bahkan kali ini aku tak berbicara dengan kedua temanku cukup lama.
Lama aku berpikir, dan akhirnya kuambil keputusan, bila besok tak juga berhasil, maka aku akan langsung berbicara padanya. Ketika jam istirahat tiba, kuutarakan niatku ini pada kedua temanku. Mereka memberiku semangat juga saran-saran yang sebenarnya telah kutahu, tapi tetap kuperhatikan.
Sepulang sekolah, kukunjungi seorang teman, ia bernama Hendi. Ia adalah seorang murid yang begitu ahli dalam bidang psikologi. Banyak anak yang meminta pendapatnya untuk memecahkan masalah.
Meskipun ia adik kelas, tapi tak sedikit kelas tiga sepertiku berkunjung padanya. Dan seperti kebanyakan anak lain, aku menanyakan jalan keluar permasalahanku ini.
“Setelah mendengar ceritamu ini, aku mengerti permasalahanmu. Kau terlalu menganggap rendah dirimu. Cobalah kau lihat kelebihan yang kau miliki sekarang ini. Sebenarnya banyak kelebihan yang kau miliki tapi kau tak sadari. Cobalah juga kau lihat orang lain, maka kau akan tahu bahwa mereka juga memiliki masalah masing-masing. Memang melihat kejelekan orang lain itu tidak baik, tapi ini juga bisa menumbuhkan rasa percaya dirimu,” begitulah nasihatnya padaku.
Nasihat itu memang sederhana, tetapi begitu mengena padaku. Ucapannya masih terngiang didalam kepalaku saat aku pulang. Kini tekadku telah bulat, kan kujalankan rencanaku ini. Aku tak tahu apa ini berani atau nekad, tapi aku tak peduli.
Seperti sudah kuduga, ia memang telah datang lebih awal seperti biasa keesokan harinya. Maka tak ada pilihan lain selain menyatakannya secara langsung.
Hari ini aku tak bisa konsentrasi pada pelajaran, sehingga guru menegurku.
“Herman, kenapa kau tak menjawab pertanyaan bapak seperti biasa, apa kau tak mengerti penjelasan Bapak?” tanya Pak Endang.
“Ngerti kok pak,” kataku sambil agak terlonjak. Aku memang telah belajar pelajaran ini semalam sehingga aku tetap mengerti meskipun aku bengong.
“Kalau begitu coba isi soal dipapan tulis ini,” perintah Pak Endang.