Telah lama kumencintainya, mungkin telah lebih dari setengah tahun yang lalu dan selama itupula kurahasiakan perasaanku ini padanya. Selama ini aku hanya melihatnya dari jauh, dan tak berani menghampirinya.
Tapi kini, waktuku hampir habis, sehingga kurasa telah saatnya kuungkapakn perasaanku ini padanya.
Karena itulah aku akan berbicara padanya sepulang sekolah nanti, itupun bila nyali yang kupunya tak menguap begitu saja karena panasnya perasaanku ini.
Kumenyusulnya diantara himpitan dan desakan murid lain yang berebut ingin pulang. Mungkin karena tubuhku yang kecil sehingga membuatku bisa mengejarnya dengan mudah, tapi aneh suaraku mendadak hilang dan ada perasaan aneh yang mengatakan bahwa lebih nyaman bila ku tak mengungkapkan perasaanku hari itu dan lebih bodohnya lagi aku mengikuti kata-kata itu.
Hari demi hari terus begitu hingga hasrat untuk memilikinya mulai pudar dan kutakut akan itu.
Akhirnya ujian sekolahpun tiba, yang berarti waktuku untuknya tinggal satu bulan lagi bahkan mungkin kurang. Mendadak perasaan itu memuncak lagi dan bahkan agak menyesakan. Kuputuskan untuk berbicara padanya seuai ujian nasional.
Hari-hari ujian itupun berlalu dan tibalah saatku untuk mengungkapkan perasaanku yang terdalam padanya. Tapi, seperti yang telah sering terjadi sebelumnya, aku terhambat. Kini bukan karena kepengecutanku tapi karena gangguan yang berasal dari teman-temanku sendiri.
Kutunda lagi rencana itu hingga datanglah ujian praktek yang menegangkan sekaligus menggairahkan bagiku. Karena saat itulah kemampuanku diuji, bukan oleh teori tapi kerja nyata.
Meskipun pikiranku sibuk karena ujian itu, bukan berarti aku melupakan dan menyingkirkan dia dari benakku.
Setelah ujian kurasakan keberanianku memuncak kembali, tapi sayang dan sialnya bagiku, saat pulang sekolah tak dapat kutemukan ia dimanapun. Maka karena itu kutunggu ia keesokan harinya, tapi kembali kurasakan kekecewaan karena ia tak datang. Begitu pula keesokan harinya.
Aku mulai meragukan bahwa aku akan sempat meminta hatinya hingga akhir yang mengecewakan. Apakah aku hanya harus mengikuti beberapa teman, yaitu pengungkapan perasaan harus ditunda sampai akhir batas yang mungkin setelah itu takkan bisa bertemu lagi.
Tapi sesuatu dalam diriku mengatakan tidak. Karena bila kulakukan itu ku tak bisa merasakan indahnya kebersamaan ditempat dimana aku dipertemukan dengannya. Atau bahkan merasakan kekecewaan hati karena penolakan ditempat itu juga.
Kuingin semuanya berakhir ditempat itu, baik akhir itu sebuah ikatan yang indah atau sebuah perpisahan yang menyakitkan.
Ujian sekolah dimulai, dan inilah kesempatan terakhirku, My Last Chance.
Seperti yang telah terjadi sebelumnya, kutunda rencana itu hingga akhir ujian. Kutahu ini sangatlah beresiko karena bila kulewatkan ini maka akan semakin sulit jalan bagiku untuk menemuinya.
Malam sebelum hari itu datang, kusiapkan sebuah surat. Surat yang isinya pendek, yang hanya meminta agar ia mau menunggu selepas ujian dan juga kata-kata teramat pendek yaitu From Me For You.
Kudatang teramat pagi kesekolah, agar tak diketahui oleh seorangpun selain aku hingga saatnya tiba. Perasaanku tak tenang ketika hendak menyimpan surat itu. Seperti layaknya pencuri, kumemastikan keadaan benar-benar sunyi. Kutaruh surat itu dengan perasan berdebar.
Detik-detik semakin berlalu mengantarku kejanji itu.
Kudengar sebuah pengumuman untuk berkumpul dilapangan sepulang sekolah. Mungkin ini akan menjadi sebuah penghambat kembali.
Saat berjalan untuk berkumpul itu, terlihat ia diantara anak-anak yang lain, ia sedang memegang suratku. Tersentak dan makin tegang kumelihatnya. Berbagai pikiran mengerikan mulai hinggap bahkan menetap dikepalaku.
Kudengar setiap perkataan guru sambil kumemperhatikan wanita dambaan hatiku.
Seorang guru mengambil microphone hendak menyampaikan sebuah pengumuman. Awalnya tak kuperhatikan. Ternyata itu adalah pengumuman para peserta lomba. Satu persatu nama peserta diumumkan, dan dengan kaget namaku disebutkan.
Ada perasaan bangga dalam diriku ketika mendengarnya, tapi ternyata itu pula yang mengancam rencanaku. Kami, para peserta diharap untuk berkumpul saat itu juga.
Saat hendak berkumpul kusuruh temanku untuk melihat apakah ia menungguku. Kuharap tmanku itu bisa mencegahnya pulang bila aku terlalu lama.
Dengan tergesa-gesa segera kuselesaikan persyaratan lomba sambil sesekali kumenengok untuk bertanya pada temanku. Ia memberiku beberapa isyarat bahwa ia masih menunggu. Kulega akan itu.
Temanku datang untuk melihat apakah aku telah selesai dan berarti tak ada seorangpun yang akan mencegahnya bila ia pulang.
Setelah selesai dengan tergesa-gesa kumelihat ketempat perjanjian, dan seakan jiwaku melayang, kulihat ia telah pergi. Tempat itu telah kosong. Segera kuberlari kearah gerbang untuk mencarinya, tapi ia memang telah pergi.
Sekarang bukan hanya rencanaku saja yang gagal, tapi aku juga telah mengingkari janjiku padanya. Mungkin ia berpikir aku telah mempermainkannya. Keyakinanku akan sebuah penolakan semakin besar dengan sikapku ini... (cerita ini kubuat pada Wednesday, May 09, 2007, 4:57:40 PM)