Menulis dan Popularitas Posting oleh EWA 5 May 2008 Kategori Menulis Buku. Oleh Ersis Warmansyah Abbas POPULARITAS berasal dari kosakata populer, berarti: dikenal dan disukai banyak orang; disukai dan dikagumi orang banyak (KBBI: 1988: 695). Orang-orang populer, seperi penemu, penyanyi, peolahraga, ilmuwan, dan seterusnya, mempunyai kemampuan atau kelebihan dalam bidang tertentu. Popularitas berarti prihal populer, kepopuleran. Misalnya, popularitas Ebiet G. Ade semakin menanjak setelah merilis album Camelia II. Begitu pula apabila seorang penulis, tulisannya disukai dan dikagumi banyak orang, disebut penulis populer. Manakala terus berkarya, dan karyanya semakin disukai, populraitasnya semakin menanjak. Banyak penulis populer. Setiap masa menandakan ciri zamannya. Yang menjadi bahasan tulisan ini, dalam kaitan menulis, bukan pemaknaan definisional atau bagaimana menjadi penulis populer. Tema ini diangkat karena semakin banyak mendapat pertanyaan; Pak bagaimana caranya agar tulisan kita disenangi orang? Kalimat lain untuk (agar) populer. Seperti biasanya bahasan saya ‘menyerang’ kekeliruan tanaman mindset. Banyak orang berusaha menulis agar populer. Banyak orang ingin menulis agar mendapatkan penghasilan. Banyak orang belajar menulis agar banyak mendapat kawan. Salah? Tentu tidak. Sah-sah saja. Bahkan, sebagai pemotivasi, sebagai pemicu, sangat positif. Lagi pula, pengalaman saya nampaknya terbalik. Pada awal menulis, karena ingin menulis. Ada ‘sesutu’ dalam diri yang mendorong. Kalau dibahas dalam dayungan psikologi, nanti dibilang sombong. Maklumi sajalah dulu. Pada lain kesempatan akan dipaparkan. Jujur saja, saya bukanlah penulis (yang) populer. Apalagi menjadi kaya karena menulis. Kalau banyak teman, yes. Hal paling menyenangkan dalam menulis, banyak teman. Lanjutannya, karena banyak teman, dengan banyaknya relasi, gara-gara banyak menulis, urusan jadi mudah. Banyak orang kenal dan mengenal karena tulisan-tulisan saya. Terutama di ranah lokal. Karena itu mendapat banyak kemudahan. Beberapa waktu lalau saya mewawancarai pejabat paling puncak di daerah kami. Kami memuatnya di media dan … seperti biasa diapresiasi banyak kalangan, tentu saja oleh yang bersangkutan. Kami ‘dihadiahi’ uang, sudahlah nominalnya tidak usah ditulis, dan tadi siang bertemu dengan pejabat yang mengurusnya. “Oh, Pak Ersis. Lama kita tidak bertemu”. Setelah bicara formal, melebar ke soal tulis menulis. Ya, seperti biasa, saya serasa menjadi orang malang —terkadang bangga juga euy— apa sih resepnya agar subur menulis? Dan, bla-bla. Selalu soal menulis. Bosan. Hal-hal tersebut, jangankan dijadikan sandaran tujuan, tetapi … diperdapat setelah (banyak) menulis. Dengan kata lain, ada baiknya menulis itu buan karena sebab-sebab tertentu, yang bisa jadi menjadi beban. Misal, berkehendak menulis agar dibaca orang seprovinsi, lalu menjadi terkenal. Kalau redakturnya tidak meloloskan tulisan Sampeyan, hayo bagaimana? Sebaliknya, menulis, menulis, dan terus menulis. Dalam menulis kita melatih menulis, belajar menulis. Kalau tulisan sudah diterima, redaktur surat kabar atau majalah, diterima, dan diterima lagi, bukankah apa yang dimaksud tercapai? Jauh berbeda titik pikirnya, manakala kehendak menulis digayuti target-target tertentu. Akan menjadi beban. Berangan-angan, bisa jadi mendapatkan bayangan, menulis mendapatkan kenyataan. Pilih mana? Dalam kalimat lain, apabila menulis dilakukan terus menerus, membangun karakter menulis dengan menulis, tulisan lebih mungkin berterima. Titik pijak menulis bukan mencari popularitas, tetapi manakala tulisan berterima, popularitas yang hinggap. Bagaimana menurut Sampeyan? Banjarbaru, 5 Mei 2008.